Indahnya alam Indonesia berhias ragam Seni dan Budaya. Selamat Datang di Jawa Barat, mari nikmati Alam, Seni dan Budaya dalam AMAZING WEST JAVA!
Showing posts with label Tentang Film. Show all posts
Showing posts with label Tentang Film. Show all posts

8/06/2015

Ini Yang Harus Diperhatikan Seorang Kameraman Saat Proses Produksi


Catatanku kali ini tentang dramaturgi penataan kamera yakni pengambilan gambar dalam penciptaan karya film. Secara umum pengambilan gambar dalam penciptaan karya film dapat dianggap sebagai suatu kerja mematerialisasikan realita yang ingin difilmkan kedalam material perekam tahap awal karena masih akan diolah dalam pasca produksi / proses editing.  Hal ini identik dengan bercerita melalui tataan – tataan gambar tentang realita cerita yang ingin ditampilkan penulis scenario dan terutama sutradara.

7/10/2015

Catatan Tentang 6 Aspek Menjadi Sutradara yang Baik

           
Kali ini saya mau sharing lagi tentang catatan saya mempelajari dramaturgi penyutradaraan. Secara umum penyutradaraan merupakan suatu kerja / proses mengatur para pemeran dan pekerja perepresentasi lain (Kameraman, Artistik, Editor dan lainnya) untuk dapat merepresentasikan dunia imajiner yang direncanakan, direpresentasikan secara terarah dan terkoordinir sehingga dunia imajiner dimaksud menjadi kenyataan kenyataan yang selain bisa disaksikan juga mengandung kesan dan pesan – pesan spesifik yang memang ingin disampaikan dalam karya film yang dibuat. Jadi fungsi penyutradaraan itu agar yang direpresentasikan dapat dilakukan secara terarah dan terkoordinir sehingga segala kesan dan makna dari karya film yang dibuat dapat tersampaikan keoada para penontonnya.

7/05/2015

Catatan tentang penciptaan Skenario Film

Daripada ilmunya hilang lebih baik dibagikan toh kita juga tidak akan jadi berkurang ilmunya malahan semakin sering dibaca semakin dipahami dan malahan kitanya yang semakin pinter. Katanya sih seperti itu tapi jujur memang begitu adanya. Pernah ngalamin ngajarin anak pkl tentang editing dan saat itu pertanyaan anak – anak pkl membawaku menemukan sebuah teknik baru. Nah asli kan akhirnya si guru makin pinter, ilmunya yang dishare tidak jadi berkurang malah bertambah dengan teknik baru. Okey kali ini mau share tentang catatanku saat mata kuliah dramaturgi bareng dosen yang luar biasa tentang penciptaan skenario film.
http://commentfaireunfilm.com/
Skenario Film
Nah secara umum penciptaan skenario film bisa dianggap sebagai suatu proses dalam menyiapkan sebuah realita dasar

7/01/2015

Mengenal Empat Kepribadian Manusia



Tak sengaja menemukan lembaran lembaran waktu saya masih menempuh pendidikan ditingkat SMK dulu. Waktu itu jurusannya masih bernama Teknik Penyiaran Radio / TV, salah satu jurusan baru pada tahun 2004 silam. Yang namanya program baru biasanya sedang berproses, mencoba mencari bentuk yang ideal. Termasuk waktu itu, beberapa mata pelajarannya coba diterapkan berharap keilmuannya saling berkaitan. Salah satunya mata pelajaran PR atau Public Relation. Yang namanya sekolah kejuruan teknik industri biasanya bergelut dengan mesin atau komponen elektronika nah di pelajaran ini kita diajak untuk mengenali diri, serasa belajar psikologi. Walaupun akhirnya memang dirasa kurang tepat dan mata pelajaran tersebut hanya bertahan satu semester saja, tapi bersyukur ada banyak pengetahuan yang juga cukup penting dan terasa manfaatnya dimasa sekarang. Salah satunya tentang cara bersikap dan bertingkah laku.

Belajar dari buku “Personality Plus” karya Florence Littauer kita dikenalkan tentang 4 sifat kepribadian seseorang, yang mula – mula dikelompokan oleh Hippocrates yakni :

5/07/2015

Sarjana dan 2 Film Dokumenter

       Wah lama tak posting, kangen juga curat coret di blog kesayangan ini. Sejak terakhir posting hasil bidikanku pada saat pementasan teater Maem Mendut 3 Semangka Pati karya sutradara Sugianti Ariani, kesibukan menyelesaikan studi plus kudu tambal sulam tutup lobang untuk biaya sehari-hari membuat aktivitasku padat merayap seperti kondisi lalu lintas di Kota Bandung hahaaa….
     
BTW sekarang udah sah jadi sarjana…. Yiihaaa…. Alhamdulillah perjuangan menempuh pendidikan di prodi Televisi dan Film STSI Bandung udah selesai. Tapi bukan berarti proses belajarnya udahan. Justru ini awal menempuh kehidupan di masyarakat, mempertanggung jawabkan segenap ilmu yang didapat untuk sebesar besar maslahat bagi umat… jiaahh… udah kaya pendakwah aja.. hehee… dan disini proses belajar berlanjut.. belajar membaca kondisi dan situasi, belajar memahami dan banyak lagi belajar belajar dan belajar. Dan terima kasih berat buat temen-temen yang udah support selama ini, juga buat para pembimbing, buat para dosen buat orang tuaku juga. Kalian semua luar biasa dan kalian semua berjiwa pahlawan hahaa…..

Saya ingin berbagi dua buah film dokumenter yang bisa diselesaikan. Pertama film berjudul ”Igel Jaipongan”, film karya sutradara penulis sendiri. Berawal saat mencari video referensi tentang tari Jaipongan dan berhasil mendapatkan berbagai video tarian ini baik dari media internet ataupun dari masyarakat. Namun setelah diamati sangat disayangkan berbagai video yang ada ini hanya berupa dokumentasi biasa. Beberapa diantaranya direkam dengan menggunakan kamera ponsel yang tentu saja kualitasnya rendah. Video dokumentasi lainnya yang ditemukan hanya dari satu sudut pengambilan gambar yang tentunya ngebuat jenuh bagi penontonnya. Ada juga beberapa video yang menggunakan 3 kamera dengan 3 sudut pengambilan gambar yang berbeda namun penggarapannya belum maksimal. Dari sini saya tertantang untuk dapat mengemas tarian Jaipongan ini sebaik mungkin diantaranya dengan melakukan berbagai eksplorasi sudut-sudut pengambilan gambar serta pengambilan detil berbagai gerakan dari tarian Jaipongan ini. Awalnya sih berharap  dengan pengemasan yang lebih menarik dan atraktif dapat menumbuhkan kembali ketertarikan para penonton akan tari Jaipongan.

Tapi ternyata setelah ditelusuri ternyata tarian Jaipongan ini sarat akan nilai, jauh berbeda dengan tari dengan “Goyangan - Goyangan” yang akhir-akhir ini merebak di masyarakat. Tari Jaipongan yang bersumber dari kearifan lokal punya segudang nilai didalamnya. Nilai etik dan estetik  yang membedakan Jaipongan dengan berbagai tari “goyangan” yang hanya untuk hiburan semata dan bahkan beberapa diantaranya dikecam  komisi penyiaran Indonesia. Beda banget dengan  tari Jaipongan yang karena  nilai - nilai yang dikandungnya menjadikan Jaipongan sebagai identitas bangsa Indonesia dari daerah Jawa Barat dalam misi - misi ke luar negeri. Bahkan Jaipongan kini masuk dunia pendidikan yakni dijadikan bahan ajar di berbagai sekolah utamanya di Jawa Barat. Kebermanfaatan tari Jaipongan sebagai sebuah karya seni dari salah satu seniman Sunda yakni Gugum Gumbira Tirasondjaya sudah sepatutnyalah menjadi contoh bagaimana kita berkarya.

Yang satunya lagi nih. film dokumenter yang dibuat non narasi judulnya“Merayakan Do’a” yang di sutradaraa sahabatku Moch. Yoga. Film ini memperlihatkan keberagaman berbagai ritual yang dilakukan setiap umat beragama di Indonesia dalam menyambut Hari Rayanya masing masing. Dengan mengetaui berbagai ritual agama tersebut diharapkan umat beragama yang satu dan lainnya bisa saling menghormati dan menghargai. Dengan toleransi antar umat beragama maka kokohlah negeri Bhineka Tunggal Ika!


9/09/2013

KONTEN VS KONSEP, YANG MANA??!!


Nonton Film Dokumenter

Hari itu saya mengikuti kegiatan BSM yang merupakan singkatan dari Bimbingan Studi Mahasiswa. Tahun 2013 ini BSM Prodi Televisi dan Film dilaksanakan di wilayah Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Disini rekan – rekan panitia membuat konsep yang menarik yakni pengenalan tentang proses pembuatan film dokumenter. Selain merupakan goal dari setiap mahasiswa yang menempuh studi disini, dokumenter juga menarik karena membeberkan fakta yang ada sehingga dapat memperluas wawasan serta menambah pengetahuan penontonnya. Tantangannya adalah mengemas dokumenter yang dibuat sekreatif mungkin sehingga penonton dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh sineas dokumenter dengan antusias. Yah terkadang dokumenter dihadirkan apa adanya dengan maksud memperlihatkan fakta yang sebenarnya, namun terkadang ‘apa adanya’ inilah yang membuat tayangan dokumenter membosankan. Padahal dengan sentuhan kreatif yakinlah tayangan dokumenter ini bisa sangat menarik dengan tidak menghilangkan fakta yang ada.
                Kelemahan biasanya adalah pada konsep, terkadang para pembuat dokumenter terlalu fokus pada konten atau isi yang ingin disampaikan, sedangkan bagaimana cara penyampaian isi ini terkadang dikesampingkan. Yupz terkadang pengemasan selalu dikesampingkan dalam dokumenter. Hasilnya acap kali jenuh dan bosan adalah kata yang sering terucap dari setiap tayangan Dokumenter. Saya selalu ingat saat dosen penyutradaraan yakni Bapak Hernawan SSA mengucapkan kembali perkataan Teguh Karya yakni “Don’t tell me but show me”. Sebagai sineas kita dituntut juga untuk bisa menggambarkan sesuatu. Ini film bung, bukan ceramah, bukan talkshow, bukan pula siaran radio, mungkin inilah jawabannya, gambar juga bisa berbicara!
                Untuk menghadirkan tayangan yang bermutu dan juga menarik, tayangan mendidik yang asik serta tayangan berwawasan yang juga berkesan haruslah ada perpaduan yang ciamik dari konten atau isi film yang dihadirkan dengan cara penyampaian/ konsep pengemasannya. Keduanya tentu harus digarap sebaik mungkin sejak dari tahapan awal yakni tahapan pra produksi. Lantas bagaimana tahapannya?!

                         C     O     M     I     N     G            S     O     O     N      




Nb:
Tulisan ini bukan untuk menggurui tetapi hanya mencoba berbagi dari apa yang sedang saya pelajari. Mari belajar bersama, berbagi dan sharing bila kawan – kawan telah menemukan sesuatu yang ideal dari film dokumenter. Tulisan ini menunjukan baru sampai tahapan inilah saya berjalan, belajar dan mempelajari dokumenter. Inilah isi dari otak saya sementara ini tentang dokumenter.  

7/28/2013

DAFTAR ISTILAH AUDIO (2)

Seperti yang dibicarakan pada daftar istilah audio jilid 1, Film merupakan media audio video yang tentunya peranan audio tidak kalah penting dari videonya. Audio yang digarap dengan baik dan dikawinkan dengan gambar akan menimbulkan karya audio video yang luar biasa serta film akan mengena kepada penontonnya. 

Begitupun dalam penggarapan film dokumenter. Audio sangat penting untuk memberikan informasi kepada penontonnya. Baik informasi dari narasi, wawancara, ataupun audio ilustrasi musik untuk memperkuat suasana. Berikut daftar beberapa istilah audio:

Omni Directional 
Microphone yang dapat menerima suara dari semua arah

Output 
Keluaran

Pasca Produksi 
Tahap penyelesaian yaitu kegiatan finalisasi sebuah produksi

Polar Pattern
Pola arah penerimaan suara dari suatu microphone.

Pra Produksi 
Tahap perencanaan untuk menghasilkan sebuah program atau hasil karya sebelum proses produksi berlangsung

Produksi
Tahap melakukan produksi atau pelaksanaan dari sebuah acara

Ribbon
Jenis microphone yang bekerja menggunakan ribbon foil metal

Sensitivity 
Besar kecilnya energy listrik yang dihasilkan oleh microphone akibat energy suara yang mengenai membran  microphone

Shotgun
Jenis microphone yang yang paling terarah. Berbentuk stik dengan sensitivitas yang tinggi

Stereo
Penempatan data dalam 2 discrete channel

Super Cardioid
Bagian dari Uni Directional mempunyai pola penerimaan suara satu arah yang lebih sempit lagi dari pola sub cardioid

Sub Cardioid 
Bagian dari Uni Directional mempunyai pola penerimaan suara satu arah yang lebih sempit lagi dari pola cardioid

Uni Directional
Microphone yang menerima suara hanya dari satu arah saja

Wired microphone 
Microphone yang menggunakan koneksi kabel

Wirelless microphone
Microphone nirkabel yakni microphone yang koneksinya tidak menggunakan kabel. Mentransmisikan sinyalnya menggunakan pemancar radio FM kecil yang terhubung kepada receivernya dalam satu sound system

VTRVideo Tape Recorder yaitu alat yang berfungsi sebagai player dan atau recorder dari DV Cam



7/26/2013

DAFTAR ISTILAH AUDIO (1)

Film merupakan media audio video yang tentunya peranan audio tidak kalah penting dari videonya. Audio yang digarap dengan baik dan dikawinkan dengan gambar akan menimbulkan karya audio video yang luar biasa serta film akan mengena kepada penontonnya.

Begitupun dalam penggarapan film dokumenter. Audio sangat penting untuk memberikan informasi kepada penontonnya. Baik informasi dari narasi, wawancara, ataupun audio ilustrasi musik untuk memperkuat suasana. Berikut daftar beberapa istilah audio:

Audio Mixer                
Suatu alat yang berfungsi sebagai penguat dan penyeimbang dari beberapa sumber suara, menjadi satu keluaran (output) yang memenuhi kriteria untuk menjadi masukan (input) pada alat perekam.

Atmosfer                      
Suara yang diambil untuk menerangkan suasana keadaan sekitar dari suatu objek. 

Bi Directional             
Microphone yang mencegah suara dari samping, tapi sangat peka pada arah depan dan belakang.

Bit                               
Unit paling dasar yang digunakan ddalam sistem digital dari tingkat suara

Broadcast                    
Mixer yang ada di broadcast room yang memusatkan perhatiannya pada kualitas audio yang akan direkam atau ditayangkan secara live on air.

Cardioid                      
Bagian dari Uni Directional, mempunyai pola penerimaan suara satu arah.  

Clipping
Sesuatu yang terjadi sewaktu amplitude suara melewati ambang batasmaksimum. Umumnya suara menjadi pecah.

Clip On                      
Jenis microphone yang bentuknya kecil, dengan posisi pemakaian mic dipasangkan pada baju atau kostum pengisi acara. Bisa dengan cara dijepitkan ataupun dengan cara ditempel.

Condencer 
Jenis microphone yang menggunakan cara kerja dengan condensator.

Compressor  
Alat yang digunakan untuk mengatur dynamic range suara.

Decibel 
Suatu unit untuk menunjukan keras lemahnya suara.

Diapragm
Komponen inti microphone yang bekerja pada tekanan kelajuan gelombang bunyi.

D.I. Box 
Alat yang berfungsi sebagai pendorong alat musik sebelum masuk ke  mixer audio

DV Cam
Kaset yang dipakai oleh VTR.

Dynamic
Jenis microphone mempunyai diaphragm yang kecil menggunakan prinsip kerja induksi.

Equalizer
Alat untuk menentukan dan mengontrol suara – suara, warna suara maupun untuk balancing
Feedback 
Suara mendengung akibat suara yang dihasilkan masuk kembali ke sumber suara yang menghasilkan suara tersebut.

FOH
Front Of House yaitu mixer yang ada di depan panggung yang memusatkan perhatiannya pada kualitas audio yang didengar oleh penonton.

Hand Microphone 
Yaitu microphone yang digunakan oleh pengisi acara dengan cara dipegang oleh tangan.

Hertz 
Suatu unit ukuran untuk frekuensi atau cycles per second.

Hypercardioid 
Bagian dari Uni Directional mempunyai pola penerimaan suara satu arah yang lebih sempit lagi dari pola super cardioid.

Input  
Masukan.

Microphone
Suatu alat yang mengubah energi suara kepada energi listrik.

Monitor 
Mixer yang ada dibelakang atau disamping panggung yang konsentrasinya adalah untuk melayani pembagian suara dan balancing monitor diatas panggung.

Multi effect processor  
Alat yang dipergunakan untuk memberikan effect – effect pada suara.

Off – Mike  
Perubahan jarak antara microphone yang digunakan dengan sumber suara sehingga sudut penerimaan tidak tepat, suara yang dihasilkanpun menurun levelnya.

2/24/2013

PERAN IMAJINASI


Disadari atau tidak, peran imajinasi begitu besar dalam melahirkan teori-teori agung di bidang ilmu pengetahuan. Ketika para ilmuwan sudah kehabisan ide untuk memecahkan suatu permasalahan karena logika telah menunjukkan keterbatasan-keterbatasannya, terkadang imajinasi bebas mereka justru yang mempunyai peranan besar dalam pemecahan problem-problem keilmuan. Bahkan ilmuwan sekaliber Einstein mengatakan, ”imajinasi lebih penting daripada pengetahuan”.
Peran imajinasi dalam proses penelusuran pengetahuan membawa banyak hal yang sering tak terduga. Meski berimajinasi tidak dibatasi oleh hukum berpikir dan konsep tertentu, namun proses mental tetap terarah pada citra atau imaji-imaji tertentu sebagai representasi dari persoalan yang sedang dibayangkan. Ketika Einstein menemukan rumus E=mc2 , dia tentu meng-imaji-kan variabel-variabel itu dalam pikirannya. Ketika Newton tiba-tiba menyadari teori gravitasinya karena melihat buah apel jatuh ke tanah, dia juga men-citra-kan sesuatu dalam benaknya. Dengan demikian, mengimajinasikan “imaji” merupakan proses yang melahirkan kedua teori tersebut.
Tentang kemampuan melahirkan konsep dari imaji-imaji yang dicecap, ada sebuah konsep menarik yang diperkenalkan Sartre dalam bukunya L’imaginaire: Psychologie phenomenogique de l’imagination (1940), yaitu tentang “imajinasi kreatif”. Imajinasi kreatif ini terkait dengan kemampuan pikiran seseorang untuk merasakan apa yang disebut “pengalaman estetik”. Ketika seseorang mampu menangkap makna dan menemukan seepisode cerita dalam sebuah lukisan, atau merasakan emosi dalam selantun lagu yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain, maka orang itu memiliki imajinasi kreatif. Dengan kata lain, tidaklah disebut imajinatif jika melihat makna dan cerita dalam sebuah lukisan yang juga bisa dilihat orang lain. Imajinasi kreatif ini disebut Sartre sebagai “tindakan menciptakan sebuah objek dalam ketiadaannya”.
Hans George Gadamer, dalam Philosophical Hermeneutics (1977) mengatakan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang tumbuh dalam ruang sosial dan masa historis tertentu. Citra tentang manusia dan lingkungannya selalu dibentuk dan direkayasa dalam lembaran sejarah. Sehingga, tidaklah berlebihan jika imajinasi dan fiksi telah membentuk lebih dari tiga perempat kehidupan nyata manusia.
Pernyataan di atas hendak menegaskan bahwa pengetahuan yang kita peroleh sebenarnya lahir dari imaji-imaji tentang segala hal yang telah kita cecap, entah ia merujuk pada objek yang real ataupun yang imajiner. Imaji-imaji yang memenuhi ruang mental kita itu menjadi semacam penyedia bahan baku bagi kegiatan merumuskan pengetahuan.
Dalam konteks ini, antara imajinasi dan rasio sebenarnya saling mendukung. Sebagai salah satu potensi intelek, imajinasi berfungsi sebagai pemecah kebuntuan ketika rasio tidak lagi mampu menyelesaikan persoalan pengetahuan yang membekap kita. Dengan dayanya, imajinasi mampu membuat tautologi-tautologi baru atas imaji-imaji yang memenuhi benak kita yang tidak dapat dikerjakan oleh rasio. Ketika pola-pola tautologi itu telah eksis dalam pikiran kita, rasio kemudian memerankan dirinya kembali, yaitu sebagai evaluator dan perumus bagi tautologi-tautologi itu agar polanya semakin matang dan presisi. Imajinasi membuat dunia hadir dalam banyak kemungkinan, dan rasio membuat kemungkinan-kemungkinan itu menjadi pengetahuan yang masuk akal.
Imajinasi juga memampukan kita menghayati dunia dan kenyataan sebagai momen puitis (ingat imajinasi kreatifnya Sartre diatas). Jika di ranah saintifik antara imajinasi dan rasio masih bisa didamaikan, maka di ranah estetis keduanya cenderung saling menegaskan. Sebagai modus representasi dunia dan kenyataan, imajinasi adalah sumber bagi bahasa konotatif-puitis, sementara rasio adalah sumber bagi bahasa denotatif-logis. Kedua modus representasi ini akan melahirkan corak dunia yang sangat berbeda.
Jika kita hanya mengandalkan bahasa denotatif-logis sebagai basis representasi, maka dunia akan mewujud sebagai objek formulatif semata. Di ranah estetis, bahasa konotatif-puitis sebenarnya lebih berpotensi memunculkan “ketidaktersembunyian” (aletheia) karena lebih membuka pengalaman, bukan menciutkannya. Oleh karena bahasa puisi hendak meng-imaji-kan sesuatu, maka hanya imajinasilah yang mampu memberikan konteks imajinatif pada pikiran kita.

IMAJINASI


Dalam perspektif awam, imajinasi masih sering diposisikan dalam arti peyoratifnya. Imajinasi dianggap serupa dengan ilusi, khayalan, dan fantasi. Salah persepsi ini berakibat pada masih kurang dipertimbangkannya imajinasi sebagai sumber pengetahuan yang sahih.
Orang sering mengajak kita untuk berpikir realistis ketika kita mengajukan gagasan yang muluk-muluk. Mereka tidak menyadari bahwa anjuran mereka, sebagaimana dikemukakan Allan Loy McGinnis dalam bukunya, The Power of Optimism (1993) sebenarnya bentuk kekhawatiran-kekhawatiran yang disembunyikan. “Worry is misuse of imagination” (kekhawatiran adalah imajinasi yang disalahgunakan). Kekhawatiran itu, dianggap sebagai sikap yang berlebihan dalam merespon bahaya, atau semacam sikap memandang rendah kemampuan kita.
Mengganggap imajinasi sejenis dengan khayalan, fantasi, atau ilusi, merupakan sikap yang salah. Istilah fantasi itu sendiri lebih berkaitan dengan daya membayangkan sesuatu hal yang tidak real atau yang tidak mungkin terjadi. Dengan demikian, fantasi sepadan dengan khayalan atau ilusi, terjemahan dari bahasa Inggris, illusion. Secara terminologis, ilusi berarti ide, keyakinan, atau kesan tentang sesuatu yang jelas-jelas keliru atau suatu persepsi panca indera yang disebabkan adanya rangsangan panca indera yang ditafsirkan secara salah. Jika fantasi (daya yang menghasilkan khayalan) berhubungan dengan gambaran objek yang tidak mungkin dan memang tidak ada dalam kenyataan, maka imajinasi merupakan daya yang menghasilkan gambaran objek yang bersifat mungkin atau logis. Imajinasi tidak terkait dengan penggambaran yang membabi buta tentang suatu objek atau konsep tertentu.
Dalam bahasa Inggris, ada beberapa variasi kata untuk imajinasi, yaitu imagery, imaginary, dan imagine. Imagery merupakan bahasa figuratif untuk merujuk sebuah gambaran, objek, ide, dalam pikiran seseorang (pembaca atau pendengar), sehingga istilah ini sering digunakan oleh para penyair dalam karya-karyanya. Imagery sering diartikan sebagai perumpamaan/tamsil, meskipun ia memiliki arti yang lebih luas dari sekedar perumpamaan. Selanjutnya, imaginary dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai yang imajiner atau khayal; contohnya bilangan imajiner sebagai bilangan khayal. Sementara kata imagine (kata kerja) berarti membentuk suatu gambaran mental tentang sesuatu, atau memikirkan sesuatu sebagai bisa terjadi atau mungkin. Imagine adalah tindakan membayangkan, meskipun pada prakteknya terdapat perbedaan antara “membayangkan” dan “mengimajinasikan”. Imajinasi dalam kamus psikologi mendeskripsikan imajinasi sebagai pengorganisasian data dari pengalaman masa lampau dengan relasi baru dalam pengalaman ide masa sekarang. Dengan kata lain dengan mencampur atau mengkombinasikan hal-hal lama dengan yang baru untuk membentuk sebuah gambaran dalam pikiran.
“Membayangkan” mempunyai konotasi sebagai sesuatu yang lebih mudah dilakukan karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Sedangkan “mengimajinasikan” itu merambah wilayah yang lebih luas sehingga tidak dapat direduksi sebagai sekedar membayangkan. Maka dari itu, imajinasi lebih tepat diartikan sebagai kekuatan potensial yang telah memberikan kontribusi berharga bagi lahirnya pengetahuan.
Perlu diketahui perbedaan antara berimajinasi dan berpikir (logis), lebih khusus terkait dengan proses lahirnya pengetahuan. Berpikir merupakan aktivitas mental untuk melahirkan atau memformulasikan pengetahuan dengan merujuk pada aturan berpikir atau konsep tertentu yang cenderung bersifat membatasi, bahkan mengikat. Misalnya anjuran berpikir lurus menurut logika identitas Aristotelian, dimana cara berpikir yang tidak mematuhi hukum logika tersebut dapat terjatuh dalam “sesat pikir” (the fallacy). Sementara dalam berimajinasi proses mental kita tidak lagi diikat oleh hukum berpikir atau konsep kebenaran tertentu, sehingga pikiran menjadi bebas untuk mencari wawasan pengetahuan baru.

1/26/2013

DOKUMENTASI SENI PERTUNJUKAN


Godi Suwarna - Seniman

Seni pertunjukan merupakan karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu yang melibatkan empat unsur: waktu, ruang, tubuh si seniman dan hubungan seniman dengan penonton. Oleh karenanya suatu pertunjukan tidak akan sama dengan pertunjukan yang lainnya walaupun menampilkan karya seni yang sama. Setiap pertunjukan akan menghasilkan ceritanya tersendiri bagi si seniman maupun penontonnya.
Dokumentasi merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menangkap dan mengabadikan berbagai momentum yang terjadi dalam setiap pertunjukan. Dokumentasi baik berupa gambar diam ( foto ) maupun gambar bergerak ( video ) akan menghasilkan kesan tersendiri. Dewasa ini seiring perkembangan teknologi banyak sekali peralatan yang bisa digunakan untuk mendokumentasikan pertunjukan. Dari peralatan yang kompleks hingga peralatan sederhana yang sehari – hari biasa dipakai. Lantas adakah cerita dari setiap foto yang dihasilkan? adakah kesan dari setiap detik video yang kita rekam?










1/25/2013

KRITIK FILM?! WHY NOT?!


                                Poster Film Turtles can Fly 2004

Dari semua cabang seni, film dapat dikatakan paling banyak mempengaruhi kehidupan manusia modern. Seorang kritikus film pernah berpendapat bahwa film bisa membawa manusia lebih dekat ke surge atau ke neraka. Yang dimaksud dari ungkapan ini adalah bahwa film yang baik dapat berpengaruh yang bermanfaat bagi kehidupan manusia seperti di bidang pendidikan, penerangan, dan hiburan yang sehat. Sebaliknya film yang menonjolkan kekerasan dan juga pornografi yang dapat merangsang nafsu kebinatangan yang membawa manusia dalam kesesatan. Kesimpulannya bahwa pengaruh film tergantung pada cara kita memakainya bisa positif ataupun negatif.
Dibanding dengan seni lain yang sudah mempunyai tradisi berabad-abad seperti seni rupa, seni tari dan seni suara, film yang baru lahir tahun 1985 relatif masih muda namun yang paling dinamis, popular dan universal. Film paling universal karena bahasa yang dipakai universal yaitu gambar. Manusia dengan berbagai suku, ras, agama dan budaya dapat melihat dan memahami gambar.
Film sudah menjadi bagian dari hidup modern yang tak dapat dielakkan dan harus diterima. Maka sebagai suatu kenyataan kehadiran film harus diterima dengan sikap positif.
Film juga merupakan alat hiburan paling murah bagi konsumennya. Karena massa yang universal menjadi konsumen terbesar maka film diproduksi sebagai industri. Implikasi dari dagang dan indsutri adalah untung rugi. Komersialisasi ini menyebabkan persaingan film semakin ketat. Oleh karena itu sebuah film yang dibuat haruslah menarik untuk disukai masyarakat. Dengan berbagai teknik seperti penataan sinematografi, teknik editing, penataan suara dan lainnya sehingga masyarakat dapat menikmati film tersebut namun juga tidak melupakan norma – norma yang berlaku di masyarakat.
Kritik film merupakan salah satu cara untuk mengapresiasi film. Manusia biasanya malah alergi mendapatkan kritikan, padahal kritik ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas film. Film bisa di kritik dari berbagai aspek baik teknis maupun non teknis misalnya dari segi cerita, sinematografi, penataan suara, editing, pemeranan dan lainnya. Dengan adanya kritik film akan memperluas wawasan dan menambah ide serta meningkatkan kreatifitas dari berbagai kritik tersebut yang pada akhirnya meningkatkan kualitas seorang sineas.